Cuman iseng-iseng,sedang membuat kisah.
Bab I- Line A
Awan beriak-riak di atas kepalaku.Awan gelap yang entah mengapa membawa dilema ke hatiku. Aku mendongak ke atas langit. Matahari sudah nyaris terselubung seluruhnya di balik awan. Kilatan-kilatan cahaya kecil terlihat di antara awan-awan gelap. Aku menelan ludahku, khawatir. Tenang,Greg, kataku. Tenang Greg, kau sudah bilang pada mom,kau akan pulang sebelum jam 4 sore, dan dia sudah berjanji padamu untuk tidak keluar rumah.Tenang.
Aku mengulang-ulang kalimat tersebut di dalam hatiku hingga hatiku mantap. Aku mengepalkan tanganku dan menyarukkannya ke dalam saku. Sambil berlagak santai, aku masuk ke toko swalayan yang di atas pintu gandanya tertera papan reklame bertuliskan "Marry's Market". Saat aku masuk melalui pintu ganda dari kaca tersebut, bel tamu yang dipasang di ata spintu berkelining kencang.
"Selamat Datang!" sapa wanita dibalik kasir ceria. Wajanya bulat,dan pipinya bersemburat merah,seperti apel yang baru dipetik. Rambutnya yang pendek cokelat dan matanya yang hijau seakan-akan menggambarkan tangkai dan daun yang menempel di apel subur.Apakah dia Marry? Tak ada yang tahu.
Aku tersenyum ragu,karena disapa dengan seceria itu.Sudah lama aku tidak disapa orang. Rasanya "aneh" disapa dengan ceria oleh orang tak dikenal.
Wanita kasir menunjukkan wajah bingung saat melihatku ragu-ragu di depan pintu masuk.Aku menggerakan kakiku dengan gerakan menyapu karpet merah tebal yang disapuh kata "WELCOME" besar dan terang berwarna emas.Aku nyengir setengah hati - sehingga lebih seperti meringis dibanding tersenyum - lalu maju selangkah dengan ragu dan congkak. Itu malah membuat wanita kasir semakin bingung. Lalu dia memperhatikanku.
Rambutku berwarna tembaga,walau sekarang lebih seperti cokelat tanah karena debu dan lumpur. Apalagi rambutku kusut masai tak terurus. Tampaknya sarang laba-laba yang menempel di ujung jambangku hanya memperarah keadaan. (tentu aku buru-buru melepas serta membuangnya ketika menyadari hal itu.) Hoodies kumal yang kupakai penih tambalan di sana-sini. Dan terpampang jelas bahwa hoodies yang disebut belakangan kebesaran 2 size di tubuhku.Jeans belel yang kukenakan tak kalah mengenaskan. Robekan disana-sini yang sangat besar seakan-akan ingin memperlihatkan kaki kurusku yang tampak hanya terdiri dari tulang. Wajahku tirusku yang pucat tampaknya tak memperbaiki keadaan. Kulitku yang putih pucat - nyaris albino sebenarnya - karena nyaris tak pernah mendapat sinar matahari membuat rona wajahku seperti setan dari liang kubur.
Setelah memperhatikan penampilanku dengan saksama,wajahnya memutih dan matanya tang hijau membelalak. Tampaknya dia sudah memutuskan manusia seperti apa aku ini di matanya dengan melihat penampilanku yang tak bisa dibilang sempurna.
Aku tak perlu kekuatan super untuk mengetahui pikirannya. Matanya mengikut kemanapun aku berjalan. Dan dia mendekatkan tubuhnya ke kasir dengan sikap protektif.
Aku hanya mendesah.Pasrah.Well,pikirku,memang jelas ada yang salah dengan penampilanku hingga disangka sebagai perampok muda.
Aku menggerayangi isi Marry's Market dengan mataku. Dari sudut mata, aku bisa melihat tubuh wanita kasir tersebut menegang saat aku menggapai salah satu keranjang belanja di sudut.Mungkin dia pikir aku akan memukulnya menggunakan keranjang biru ini,lalu kabur dengan membawa seluruh uang yang ada di kasir.Aku terkekeh sendiri membayangkannya - yang membuat wanita kasir makin ketakutan.
Melihat reaksinya,isengku kambuh. Aku berpikir, jika aku mengayun-ayunkan keranjang ini sambil memasang wajah garang, apa yang akan terjadi? Bagaimana reaksinya? Aku tersenyum membayangkannya. Mataku menerawang keluar etalase toko. Menimbang-nimbang untuk melaksanakan gagasannya atau tidak. Sampai terlihat sepasang ibu dan anak keluar dari toko seberang dengan rona wajah gembira. Saat bayangan mereka terpantul di kaca etalase toko,aku tercekat. Ingat akan mom di rumah,menunggu kepulangannya.
Aku menjadi terburu-buru dan memasukkan barang yang kelihatan penting untuk kelangsungan hidupku dan mom secara asal. Dan dengan kasar aku menjatuhkan semua isi keranjangku ke kasir. Wanita kasir itu mendesis dengan sikap menegur. Aku mengabaikannya.
Saat dia menghitung total harga belanjaanku,mataku terpaku pada angka yang ditunjukkan oleh kalkulator penghitungnya. Saat wanita kasir itu sudah menghitung dua per tiga belanjaanku,angka yang ditunjukkan cukup mengejutkan. Apa mungkin harga naik lagi?
Aku mengeluarkan uang yang kubawa di sakuku sebagian kecil - hingga hanya terliha ujungnya - lalu menghitungnya dengan cermat menggunakan sudut mataku.
Angka yang ada di kalkulator sudah mendekati jumlah uang yang kubawa. Bahkan sama. Padahal masih ada sebonggol telur dilapisi alumunium foil yang belum dihitung.Uangku tak akan cukup.
Aku hanya memiliki waktu satu detik untuk memutuskan. Tak ada waktu.Tak ada uang. Pepatah "Time is Money" salah. Keduanya sama penting.
Dengan cepat,aku mengulurkan tanganku ketika wanita kasir sedang sibuk mengemas belanjaanku di plastik berlogo Marry's Market, berencana meraih sebonggol telur tersebut. Jantungku bertalu-talu. Padahal ini bukan pertama kalinya aku melakukan hal macam ini.
Tiba-tiba -------
_____To Be Continued_______
Bab I- Line A
Awan beriak-riak di atas kepalaku.Awan gelap yang entah mengapa membawa dilema ke hatiku. Aku mendongak ke atas langit. Matahari sudah nyaris terselubung seluruhnya di balik awan. Kilatan-kilatan cahaya kecil terlihat di antara awan-awan gelap. Aku menelan ludahku, khawatir. Tenang,Greg, kataku. Tenang Greg, kau sudah bilang pada mom,kau akan pulang sebelum jam 4 sore, dan dia sudah berjanji padamu untuk tidak keluar rumah.Tenang.
Aku mengulang-ulang kalimat tersebut di dalam hatiku hingga hatiku mantap. Aku mengepalkan tanganku dan menyarukkannya ke dalam saku. Sambil berlagak santai, aku masuk ke toko swalayan yang di atas pintu gandanya tertera papan reklame bertuliskan "Marry's Market". Saat aku masuk melalui pintu ganda dari kaca tersebut, bel tamu yang dipasang di ata spintu berkelining kencang.
"Selamat Datang!" sapa wanita dibalik kasir ceria. Wajanya bulat,dan pipinya bersemburat merah,seperti apel yang baru dipetik. Rambutnya yang pendek cokelat dan matanya yang hijau seakan-akan menggambarkan tangkai dan daun yang menempel di apel subur.Apakah dia Marry? Tak ada yang tahu.
Aku tersenyum ragu,karena disapa dengan seceria itu.Sudah lama aku tidak disapa orang. Rasanya "aneh" disapa dengan ceria oleh orang tak dikenal.
Wanita kasir menunjukkan wajah bingung saat melihatku ragu-ragu di depan pintu masuk.Aku menggerakan kakiku dengan gerakan menyapu karpet merah tebal yang disapuh kata "WELCOME" besar dan terang berwarna emas.Aku nyengir setengah hati - sehingga lebih seperti meringis dibanding tersenyum - lalu maju selangkah dengan ragu dan congkak. Itu malah membuat wanita kasir semakin bingung. Lalu dia memperhatikanku.
Rambutku berwarna tembaga,walau sekarang lebih seperti cokelat tanah karena debu dan lumpur. Apalagi rambutku kusut masai tak terurus. Tampaknya sarang laba-laba yang menempel di ujung jambangku hanya memperarah keadaan. (tentu aku buru-buru melepas serta membuangnya ketika menyadari hal itu.) Hoodies kumal yang kupakai penih tambalan di sana-sini. Dan terpampang jelas bahwa hoodies yang disebut belakangan kebesaran 2 size di tubuhku.Jeans belel yang kukenakan tak kalah mengenaskan. Robekan disana-sini yang sangat besar seakan-akan ingin memperlihatkan kaki kurusku yang tampak hanya terdiri dari tulang. Wajahku tirusku yang pucat tampaknya tak memperbaiki keadaan. Kulitku yang putih pucat - nyaris albino sebenarnya - karena nyaris tak pernah mendapat sinar matahari membuat rona wajahku seperti setan dari liang kubur.
Setelah memperhatikan penampilanku dengan saksama,wajahnya memutih dan matanya tang hijau membelalak. Tampaknya dia sudah memutuskan manusia seperti apa aku ini di matanya dengan melihat penampilanku yang tak bisa dibilang sempurna.
Aku tak perlu kekuatan super untuk mengetahui pikirannya. Matanya mengikut kemanapun aku berjalan. Dan dia mendekatkan tubuhnya ke kasir dengan sikap protektif.
Aku hanya mendesah.Pasrah.Well,pikirku,memang jelas ada yang salah dengan penampilanku hingga disangka sebagai perampok muda.
Aku menggerayangi isi Marry's Market dengan mataku. Dari sudut mata, aku bisa melihat tubuh wanita kasir tersebut menegang saat aku menggapai salah satu keranjang belanja di sudut.Mungkin dia pikir aku akan memukulnya menggunakan keranjang biru ini,lalu kabur dengan membawa seluruh uang yang ada di kasir.Aku terkekeh sendiri membayangkannya - yang membuat wanita kasir makin ketakutan.
Melihat reaksinya,isengku kambuh. Aku berpikir, jika aku mengayun-ayunkan keranjang ini sambil memasang wajah garang, apa yang akan terjadi? Bagaimana reaksinya? Aku tersenyum membayangkannya. Mataku menerawang keluar etalase toko. Menimbang-nimbang untuk melaksanakan gagasannya atau tidak. Sampai terlihat sepasang ibu dan anak keluar dari toko seberang dengan rona wajah gembira. Saat bayangan mereka terpantul di kaca etalase toko,aku tercekat. Ingat akan mom di rumah,menunggu kepulangannya.
Aku menjadi terburu-buru dan memasukkan barang yang kelihatan penting untuk kelangsungan hidupku dan mom secara asal. Dan dengan kasar aku menjatuhkan semua isi keranjangku ke kasir. Wanita kasir itu mendesis dengan sikap menegur. Aku mengabaikannya.
Saat dia menghitung total harga belanjaanku,mataku terpaku pada angka yang ditunjukkan oleh kalkulator penghitungnya. Saat wanita kasir itu sudah menghitung dua per tiga belanjaanku,angka yang ditunjukkan cukup mengejutkan. Apa mungkin harga naik lagi?
Aku mengeluarkan uang yang kubawa di sakuku sebagian kecil - hingga hanya terliha ujungnya - lalu menghitungnya dengan cermat menggunakan sudut mataku.
Angka yang ada di kalkulator sudah mendekati jumlah uang yang kubawa. Bahkan sama. Padahal masih ada sebonggol telur dilapisi alumunium foil yang belum dihitung.Uangku tak akan cukup.
Aku hanya memiliki waktu satu detik untuk memutuskan. Tak ada waktu.Tak ada uang. Pepatah "Time is Money" salah. Keduanya sama penting.
Dengan cepat,aku mengulurkan tanganku ketika wanita kasir sedang sibuk mengemas belanjaanku di plastik berlogo Marry's Market, berencana meraih sebonggol telur tersebut. Jantungku bertalu-talu. Padahal ini bukan pertama kalinya aku melakukan hal macam ini.
Tiba-tiba -------
_____To Be Continued_______

Posting Komentar